![]() |
| Suasana pertandingan gim Dota 2 di Southeast Asia Cyber Arena (SEACA) 2019, Sabtu (9/11/2019), di Balai Kartini, Jakarta. | AKURAT.CO/Tria Sutrisna |
Atlet profesional dari olahraga yang konvensional di tingkat tertinggi tidak hanya mengalami persaingan sengit dari tim lawan atau individu atlet lainnya, tetapi juga tekanan psikologis yang kuat, mulai dari kecemasan kinerja, ketakutan akan kegagalan, dan ketegangan akibat miskomunikasi, khususnya dalam olahraga tim.
Gamer profesional yang bersaing dalam kompetisi ESports besar ternyata juga mengalami jenis stres yang sama. Hal tersebut menurut sebuah studi psikologi baru yang diterbitkan dalam Jurnal Internasional Gaming dan Simulasi Mediasi Komputer.
Psikologis olahraga juga diterapkan pada ESports yang notabene merupakan bidang penelitian relatif baru. Bidang tersebut oleh Universitas Chichester di Inggris dirangkul dengan gelar ESports BA (Hons) yang baru diluncurkan. Program ini berfokus pada studi ilmiah tentang dampak fisik dan psikologis ESports, termasuk nutrisi, pelatihan, dan strategi dalam lingkungan gim yang mendalam.
Faktanya, pada tahun 2016, satu tim elit CSGO, Astralis, sebenarnya merekrut seorang psikolog olahraga untuk membantu anggotanya mengatasi tekanan psikologis berkompetisi dalam lingkungan berisiko tinggi. Astralis kemudian memenangkan ELEAGUE Major pada Januari 2017, dan tim memuji psikolog tim dengan meningkatkan kemampuan mereka untuk mengatasi tekanan kompetitif.
"Kami pikir (penelitian) adalah kesempatan yang baik untuk melihat bagaimana para pemain esports mengatasi di depan penonton langsung dan bagaimana mereka bergaul sebagai satu tim," Philip Birch, kata salah seorang tim peneliti dikutip dari Arstechnica, Senin (25/11).
Dalam penelitian ini, para peneliti mengadopsi lebih dari pendekatan kualitatif daripada kuantitatif. Menurut Birch, sifat kualitatif penelitian ini lebih cocok untuk eksplorasi awal dari berbagai faktor stres dan mekanisme yang umum untuk pemain olahraga.
Birch menyimpulkan bahwa para pemain ESports menghadapi 51 faktor stres yang berbeda, terutama masalah komunikasi tim dan kecemasan tentang bersaing di depan penonton langsung, mirip dengan demam panggung. Stres yang sama dan biasanya dialami oleh atlet olahraga profesional yang bersaing di tingkat tertinggi.
Masalah internal juga memengaruhi, seperti kurangnya kepercayaan pada rekan satu timnya terutama dalam hal mempertahankan kontrol emosional di bawah tekanan dan menjadi enggan mengambil risiko karena takut gagal dan mengecewakan tim.
Sementara ada juga faktor eksternal, seperti kata-kata toxic dari tim lawan, serangan media sosial, dan kegelisahan yang terkait dengan memainkan permainan tekanan tinggi yang serba cepat di depan audiensi langsung yang besar.
Sumber:https://akurat.co/

Komentar
Posting Komentar